Feeds:
Tulisan
Komentar

Masih dalam suasana Idul Fitri 4029H, Paguyuban Padjeg Boemi (PPB) mengadakan Halal bi Halal pada tanggal 19 Oktober 2008. Saya yakin semua sudah tahu kalau kita, eks pegawai Direktorat PBB dan BPHTB, memiliki wadah atau paguyuban yang mungkin didirikan untuk mengenang bahwa dulu kita pernah menjadi pegawai PBB, yang dalam hitungan hari akan benar-benar menjadi legenda, menjadi sedjarah, dengan diresmikannya kantor modern di lingkungan DJP Papua, Maluku dan Nusa Tenggara. Begitu diresmikan oleh Pak Dirjen, saat itu PBB benar-benar sudah almarhum. Namun saya yakin, seandainya tubuh ini digores pisau, darahnya dilihat di mikroskop, huruf ‘PBB’ akan tergambar jelas di setiap sel-sel darah kita. PBB selamanya!!! (fanatik mode : on)

Seperti dalam halal bi halal sebelumnya, para sesepuh PBB banyak yang hadir. Yang sudah purna tugas diantaranya Pak Karsono, Pak Chaizi, Pak Hasan Rachmany, Pak Subur. Yang masih aktif diantaranya Direktur ekstensifikasi dan Penilaian, Pak Hartoyo, Direktur PBB dan BPHTB terakhir, Pak Maisar Anwar, Pak Jangkung, dan lain-lain. Angkatan 5 Prodip PBB hanya ada saya (Deddy Hariyanto), Agus ‘Cangak’ dan Ika. Pak Darmin nasution juga menyempatkan hadir, walaupun cuma 1 jam.

Acaranya seperti biasa, ada ceramah agama oleh Ustadz Dedy P, dan tentunya sambutan-sambutan, mulai dari Pak Sartono (Ketua Paguyuban), Pak Karsono (Penasihat), Pak Chaizi (Sesepuh), dan Pak Hartoyo (Pembina). Yang ditunggu-tunggu adalah sambutan dari Dirjen Pajak, Pak Darmin Nasution. Salut buat beliau, karena dalam 2 halal bi halal yang saya ikuti, beliau berkenan hadir dan memberi sambutan. Dalam sambutannya kali ini beliau menyampaikan beberapa hal yang sedang hangat belakangan ini diantaranya adalah:

  • PBB sektor P2 (Pedesaan dan perkotaan) akan segera diserahkan (dikelola) oleh pemerintah daerah masing-masing, seiring dengan digodognya RUU PDRD di DPR saat. Namun perlu ada masa transisi agar pendaerahan tersebut dapat dilakukan dengan baik. Ditjen pajak meminta waktu selama 5 tahun, sedangkan DPR meminta 3 tahun. Selain itu, masalah pendataan dan penilaian masih dikelola oleh pusat (ini yang jadi permasalahan, ntar kita bahas ya…).
  • Mengenai pegawai, dalam hal ini yang sering didengar adalah, bagaimana nasib pegawai fungsional (yang bertanggung jawab masalah pendataan dan penilaian). Kemarin Pak Darmin mengatakan, kemungkinan ada beberapa pilihan, menjadi pegawai Pemda atau tetap menjadi pegawai Ditjen Pajak. Namun untuk pegawai yang mengajukan diri (langsung memilih secara sadar) menjadi pegawai Pemda, DJP tidak akan menghalangi alias langsung disetujui. Ada juga kabar yang mengatakan kalau selama masa transisi itu, tenaga fungsional di-BKO-kan ke Pemda sesuai pilihan masing-masing. Mereka bertugas membina SDM yang ada di Pemda sampai mereka siap dilepas 100%. Kalau ini yang terjadi, benar-benar menjadi pilihan yang sangat bagus buat tenaga fungsional. Gaji dapat, TKPKN + TKT dapat, ditambah lagi honor dari Pemda dan jam kerja cuma sampai jam 3 sore. Opo ora enak tenan!!!!
  • Masalah mutasi juga disinggung. Ini pasti menjadi berita yang paling ditunggu. Beliau baru menyadari bahwa pegawai yang dimutasikan ke tempat baru, banyak yang mengeluh, karena lokasi yang dituju ternyata sangat susah akomodasinya. Ada yang harus menggunakan perahu dan sebagainya. Beliau dengan tegas menyatakan akan lebih hati-hati dalam memutasikan pegawai. Tempat-tempat seperti Papua, DI Aceh jangan dipandang sebagai ‘tempat buangan’, tetapi sebagai “tempat promosi”. Jadi bagi yang promosi nantinya, ya harus siap-siap kalau ditempatkan di daerah itu, tapi yang agak ‘menggembirakan’, kata beliau jangan lebih lama dari 2 tahun (kalau beliau keburu pensiun, gimana ya???). Mutasi sekarang memakai sistem ring. Kalau tidak salah ada 5 ring yang ada sekarang ini. Tapi saya belum tahu mana saja kota-kota yang termasuk di ring-ring tersebut. yang pasti, Jakarta masuk ring 1, dan seterusnya sampai ring 5, mungkin ya Aceh dan Papua itu. Sistem promosi nantinya akan mengikuti ring itu. Untuk yang pertama kali promosi dimasukkan ke ring 5 dulu, baru ring 4-3-2 dan akhirnya akan ke ring 1. Begitu kata beliau. Jadi…… tahu sendiri lah…

Tiga hal itu yang disinggung oleh Pak Darmin dalam sambutannya. Kalau sistem itu permanen dan konsisten meskipun Dirjennya diganti-ganti, tentu menjadi hal yang sangat baik. Tapi kalau ganti Dirjen ganti sistem, sudah telanjur promosi ke’sana’, yo mancep nang kono rek!!!

Sekarang kita lihat masalah apa yang sekiranya akan muncul jika PBB didaerahkan tetapi pendataan dan penilaian masih dikelola oleh pusat. Untuk sementara hanya sektor P2 yang diserahkan ke Pemda. Setelah itu sektor Perkebunan juga diminta oleh DPR untuk dierahkan juga. Hanya Migas yang tidak disentuh. Suatu saat, jika sektor-sektor itu sudah diserahkan semua ke Pemda, maka praktis sudah tidak ada lagi kontribusi pendataan dan penilaian bagi penerimaan pajak pusat, sementara pekerjaan itu masih dilakukan oleh pegawai pajak. Pegawai yang bertugas melakukan pendataan dan penilaian berada di lingkungan DJP, tetapi tidak ada kontribusi pajak yang masuk ke ‘rekening’ DJP, apa ‘pendanil’ akan tetap dipertahankan sebagai salah satu tugas DJP? Tentunya ini menjadi pertimbangan serius yang akan menjadi dasar keputusan DJP. Kalau menurut analisa saya, pekerjaan pendanil itu sebaiknya langsung saja diserahkan ke Ditjen Kekayaan Negara begitu UU PDRD dikeluarkan. Pertanyaannya, apakah tenaga fungsional mau ditempatkan ke DJKN? tentunya tidak semudah itu. tapi kalau take home pay - nya sama, saya yakin banyak yang tertarik, termasuk saya. Serius, kalau memang remunerasinya sama, saya sangat tertarik, karena ilmu dasarnya penilaian, cocok kalau di DJKN. Right man on the right job, itu filosofinya. (wis mulai jeru ki..). Apalagi ada isu (dilarang keras percaya), perbandingan untuk promosi di DJP bagi ‘orang lama’ dan ‘orang baru’ adalah sebagai berikut:

untuk eselon 4 ==> orang lama : orang baru = 10 : 1, jadi 10 orang lama promosi, baru 1 orang baru dilirik untuk promosi

untuk eselon 3 ==> orang lama : orang baru = 3 : 1, jadi 3 orang lama promosi, baru 1 orang baru boleh promosi.

WARNING : DILARANG KERAS UNTUK PERCAYA!!!!

Sekarang ini yang bisa kita lakukan adalah just wait and see, akan kemana ‘orang baru’ ini di DJP. Apakah benar-benar bisa melebur di satu instansi yang bernama KPP Pratama, atau selamanya akan dianggap sebagai eks ‘anu’, dan kewarganegaraannya hanya sebagai “WNI dengan SKBRI”??? Hanya waktu yang bisa menjawab.

TIDAK ADA YANG ABADI SELAIN PERUBAHAN

SELAMAT JALAN PAK HASAN

Beberapa waktu yang lalu, salah seorang “pilar” Pajak Bumi dan Bangunan telah memasuki masa purna tugas alias pensiun, setelah memasuki usia yang ke 60 tahun. Beliau adalah Bapak Hasan Rachmany, terakhir tercatat sebagai tenaga pengkaji di Direktorat Jenderal Pajak. Sebelumnya, beliau adalah Direktur pertama Ekstensifikasi dan Penilaian, yang menjadi suksesor dari Direktorat PBB dan BPHTB, “kerajaan kecil” yang menjadi masa lalu bagi kita, pegawai PBB. Walaupun masa lalu, tetapi di dalam dada ini, masih terukir sangat jelas tulisan “PBB”. Tidak akan pernah hilang sampai kapanpun!!

Banyak kenangan yang pasti terjadi diantara Pak Hasan dengan semua pegawai PBB di seluruh Indonesia. Saya sendiri baru berinteraksi secara langsung mulai tahun 2006, ketika Direktorat Ekstensifikasi dan Penilaian lahir. Dulu katanya, beliau ini sangat keras pada semua orang. Bahkan beberapa orang dengan jelas menggambarkan sosok beliau sebagai orang yang tanpa kompromi, dan ditakuti pegawai PBB, saking kerasnya. Kata-kata yang sangat populer dari beliau adalah “kayu bakar neraka”. Entah sudah berapa orang yang mendapat hadiah kata-kata itu, untuk menyinggung pegawai yang “bermain-main” dengan pajak, sehingga begitu populer dan diketahui oleh semua pegawai PBB. Saya sendiri beberapa kali mendengan secara langsung kata-kata mutiara itu. Beberapa sesuai konteksnya, tetapi kadang-kadang juga kurang sesuai. Menurut saya bukan hak kita untuk menghakimi orang masuk neraka atau tidak. Yang menjadi hak dan bahkan kewajiban kita adalah berusaha menjauhkan orang dari neraka. Tapi sebagai terapi kejut, kadang-kadang kata-kata mutiara itu mujarab sebagai bahan introspeksi diri.

Namun katanya, sekali lagi katanya, setelah menjadi Direktur Eksten, beliau lebih arif, bijaksana, tidak terlalu keras seperti dulu. Itu kata mereka yang pernah menjadi staf beliau dulu dan sekarang. Saya sendiri karena baru bertemu langsung saat jadi pelaksana di Eksten, merasakan beliau orangnya low profil. Kalau rapat, beliau masih mau mendengar pendapat bawahannya dan sering mengakui kalau pendapat bawahnnya lebih baik. Itu yang saya alami. Selalu mengajak bawahan untuk sholat berjamaah semampu mungkin, selalu memberi motivasi untuk bekerja lebih baik karena tantangan ke depan semakin berat. Walaupun kata-kata mutiara diatas masih kadang-kadang terdengar. Mungkin semakin berumur manusia memang akan semakin bijaksana.

Ada pengalaman yang sangat hebat. Saya katakan sangat hebat, karena saya tidak menduga beliau akan melakukan semua ini. Pada suatu acara (saya lupa acara apa) di lantai 16 gedung B, Kantor Pusat DJP, beliau yang notabene sebagai Direktur waktu itu (eselon 2, man!), saat acara makan, beliau mau membersihkan semua piring yang akan dipakai oleh stafnya, tanpa kecuali. Satu persatu dilayani, piring demi piring dibersihkan dengan kertas tisu dan diberikan kepada setiap staf. Beliau berkata waktu itu, “ Hari ini biarlah saya yang melayani kalian”. Suerrr, ini benar-benar terjadi! Tanpa rekayasa! Ada pegawai yang mencoba mengambil piring sendiri, mungkin merasa tidak enak hati, tetapi dicegah oleh beliau. Eselon 2, Man!!! Direktur!!! Mau melayani semua pegawai saat itu. Membersihkan piring dan memberikan kepada kita. Runtuh segala kesombongan dalam diri ini melihat itu semua. Saya sangat-sangat terharu. Pengalaman orang dengan beliau memang berbeda-beda, tetapi yang satu ini akan selalu terkesan pada diri saya.

Kalau mendengar cerita beliau bagaimana saat pertama membangun sistem untuk PBB, maka tidak salah kalau meletakkan beliau sebagai pilar PBB, pondasi bagi rumah (atau kerajaan kali ya…J) di masa lalu. Usaha beliau untuk mengirimkan pegawai PBB untuk kuliah di luar negeri (termasuk Pak Hartoyo, Direktur Eksten saat ini), agar PBB memiliki pegawai yang profesional, sangatlah gigih. Itupun diakui oleh Pak Hartoyo saat acara perpisahan dengan beliau. Kata Pak Hartoyo, Pak Hasan adalah inspiratornya, bahkan disebutnya sebagai alasan untuk tetap menjadi pegawai pajak (karena beliau memang ingin keluar dari pegawai negeri, tapi dicegah oleh Pak Hasan).

Tentunya banyak sekali kisah yang dituliskan untuk beliau, baik pengalaman baik maupun buruk, mari kita jadikan semua itu pelajaran untuk menjadi orang yang lebih baik. Siapapun pegawai PBB yang memiliki kisah dengan beliau dan mungkin ingin memberi komentar, silakan tulis saja semuanya disini.

Terakhir, selamat jalan Pak Hasan. Semoga di masa purna tugas, selalu diberikan kesehatan dan masih mau peduli dengan generasi penerus. Semoga segala jasamu menjadi amal baik di sisi Allah SWT, dan segala kesalahan beliau bisa kita maafkan sehingga beliau bisa menjalani masa purna tugas dengan tenteram.

SELAMAT JALAN BAPAK…..

Nulis lagee ah…

Assalamualaikum, Salam Sejahtera, Om Swastiastu

Walah ternyata susah ya menghidupkan blog yang sudah kita buat. Susah karena yang buat cuma modal nekat, ora ngerti babar blas masalah internetan, ntar seharusnya blog ini aku serahkan ke “yang berwenang” aja kali ya, seperti ervandi, agus cangak, atau yang lain yang bisa. Secara pribadi pengen banget blog ini bisa diramaikan oleh teman-teman angkatan 5. Bukannya mau eksklusif, tapi ingin sekali punya “tempat kumpul” khusus untuk angkatan kita. So, ayo sumbangkan saran, ide , dan atau apapun, sehingga blog ini menjadi blog yang selalu diakses oleh teman-teman. Saya akan berusaha menulis apapun di blog ini, asalkan bermanfaat. Teman-teman juga boleh (bahkan wajib!) menulis tentang apapun di blog ini. Kirimkan saja ke email-ku (deddymaica@gmail.com, deddy.hariyanto@pajak.go.id) atau lewat gtalk (lebih cepet). Dijamin TIDAK AKAN DISENSOR!!! Saya tidak punya kompetensi apapun untuk melakukan sensor. Apapun itu pasti akan saya muat, karena saya yakin teman-teman semua sudah bisa melakukan sensor untuk dirinya sendiri.

Ada beberapa kabar yang perlu diketahui oleh teman-teman semua. Yang pertama, alhamdulillah teman kita Agus “cangak” Supriyanto sudah menyelesaikan studinya di Australia. Kita turut berbangga karena dari angkatan kita ada yang bisa kuliah di luar negeri, termasuk Premon yang sudah lebih dahulu lulus. Berita yang kedua adalah, salah satu teman kita, Kristian Agung “Premon”, bersama teman-temannya menulis sebuah buku tentang transfer pricing. Judul lengkapnya ” Konsep dan Aplikasi Cross-Border Transfer Pricing untuk Tujuan Perpajakan”, diterbitkan oleh Danny Darussalam Tax Center. Sekali lagi salah seorang dari angkatan kita mampu melakukan sesuatu yang berguna bagi republik ini. Mari kita dukung semua usaha seperti ini, dan patut ditunggu kontribusi dari teman-teman yang lain.Yang ketiga mungkin sudah pernah disinggung oleh Ervandi di email pajak, bahwa saudara kita Salman (Wisnu) telah menghubungi saya melalui blog ini. Alhamdulillah, kita bisa bertemu walaupun hanya lewat internet. Semoga beberapa teman yang lain seperti Purwo, Heri “He-Man”, Jimmy, Adi, juga bisa melihat blog kita ini dan menginformasikan keberadaan mereka.

Sebagaimana yang pernah ramai disinggung dalam email pajak, kita mengeluarkan wacana REUNI, yang ternyata masih sangat jauh dari realisasi. Nggak apa-apa, yang penting sudah ada keinginan untuk bertemu, hanya masalah waktu saja yang belum memberi kesempatan kepada kita. Semoga Allah Yang Maha Kuasa memberi kesempatan kepada kita untuk saling bertemu sebelum kita bertemu dengan-Nya, amiin.

Terakhir, saya sangat mengharapkan partisipasi teman-teman untuk meramaikan blog ini. Semoga blog ini memberikan manfaat bagi kita semua. Amin

Terima kasih. Jayalah Terus Angkatan 5.

Wassalamualaikum, Salam Sejahtera, Om Swastiastu

Piye kabare rek!!

Tak terasa sudah 12 tahun kita lulus dari kawah candradimuka Prodip III PBB/Penilai Malang angkatan 5. Terlalu banyak peristiwa yang kita alami masing-masing, dengan segala rasa suka, duka, sedih, bahagia, tertawa, menangis. Semua terangkum dalam lembaran-lembaran kitab-kitab yang terjilid indah dan tersusun rapi dalam perpustakaan memori kita. Ada yang sempat terekam dalam gambar-gambar dan atau cakram-cakram yang bisa kita lihat setiap saat. Ada momen yang terlewat begitu saja, sehingga kita hanya mampu menghadirkannya lewat “memories player” yang ada di benak kita. Semoga, diantara kenangan-kenangan, gambar-gambar, cakram-cakaram itu, ada cerita yang menggambarkan kebersamaan kita sebagai mahasiswa Prodip III angkatan 5, yang selama 3 tahun bersama-sama menempuh pendidikan yang ‘maha berat’, penuh dengan perjuangan dan pengorbanan (ga boleh kawin dulu :=D). Semoga kita masih ingat teman-teman yang ‘kurang berminat’ menjadi pegawai negeri sipil seperti Jimmy yang lebih cocok jadi anggota TNI, Purwo yang dibenci para tokek Polowijen, Hari si Gendut yang jago debat, Wisnu (Salman) yang suka nyoretin absen, Adi gitaris kita, dan selalu saling mendoakan keselamatan dan kesejahteraan dimanapun mereka berada.
Sementara kita yang sangat berminat dan sudah terlanjur menjadi PNS, sekarang sudah tersebar di seluruh wilayah Indonesia (sesuai kertas yang kita tanda tangani dengan terpaksa), he..he.. Saya pribadi (deddy) membuat situs (yang sangat sederhana ini) karena sangat ingin mengetahu keberadaan dulur-dulur semua. Di kantor pusat setiap hari saya bertemu Rahmad, Kuat, Andreas, kadang-kadang bertemu Agus Cangak (kuliah di Australia rek!!) kalau sedang libur, atau Agung Premon kalau lagi ada rapat. Sepertinya, temen-temen sebagian besar sudah ditempatkan di Jawa, sehingg kemungkinan kita bisa berkumpul (kopi darat) sangatlah besar. Ingin sekali rasanya kita bertemu, reuni, melepas kangen bersama-sama. Ingin tahu bagaimana perkembangan dulur-dulur semua.
Besar harapan saya agar dulur-dulur membaca situs ini dan meninggalkan komentar yang berisi dimana sekarang bekerja, nomor ponsel yang aktif, dan alamat rumah/kantor, sehingga kita bisa saling menghubungi dan segera merealisasikan reuni Prodip III PBB/Penilai angkatan 5.